Postingan

3 hal yang paling memuakkan

Abtraksi cerita berawal dari warung kopi Tak jarang ku mendengar cerita ataupun kicauan para pendedam, mereka berteriak mengumpat atas apa yang mereka rasakan dan menganggap semua manusia keparat bahkan makian-makian itu pun terlalu pedas tuk di dengar telingaku ini, sesaat kemudian ku mulai bertanya pada mereka “apa yang terjadi kawan? Kenapa kau ini kok datang-datangnya membawa makian gak jelas dengan segala sumpah serapah lagi” lalu sang pendendam menjawab “ini semua gara-gara bajingan itu dia mulai banyak tingkah dan gak konsisten pada keputusan yang dia tetapkan dan ku merasa di bohongi oleh kata-katanya dan mungkin suatu saat dia akan mengkhianatiku” sesaat kemudian ku terhenyak mendengar ucapannya lalu ku mulai tersadar bahwa ku pernah merasakan itu dan luka lama terpugar kembali menimbulkan rasa benci yang telah lama terkikis. Dan di saat yang sama ku mulaai berkata “tenang ja kawan semua ini terjadi karena kesalahan dan keteledoran kita sendiri yang terbutakan oleh kila...

SEBATAS TULISAN

Kehampaan menutunku pada sebuah reruntuhan bangunan masa depan, kulihat kehancuran mengalun sayup seiring hancurnya jiwa suci. Jiwa yang tak pernah merasakan kebahagiaan meski sesamar binatang nirwana selalu merasa paling lemah, sial, terpuruk dan tertindas roda kehidupan tak pernah sadar karunia terbesar kehidupannya, dirasa hidup adalah suatu beban. Cinta yang dialami tak pernah mampu difahami, pernah ku mencoba tapi sayang, kau jalani hidupmu untuk cinta bukan cinta untuk hidupmu. Aku tahu jiwamu yang suci menyimpan suatu kekuasaan yang selama ini tak pernah kau sadari, hai jiwa suci bangun dan ciptakan istana megahmu yang kan kau diami bersama belaian mesra kekasih. Renungi masa lalumu jangan pernah kau coba merayu satu kesalahanmu yang pernah robohkan imajimu. Jangan pernah kau merasa tertindas karena roda hidup tak kan pernah berhenti berputar meski kadang iramanya pelan atau bahkan terlalu cepat. Tundukkan wajahmu, lihat dan lalui jalanmu jangan pernah kau tergoda menantang keh...

UNTUK SESEORANG

Bukanlah malam jika berlenterakan mentari Bukanlah siang jika bertaburkan bintang Hanya pujangga yang bernafas stelah kematiannya Aku tak munafik pada kenyataanku Yang tak terlihat sang buta Tak terdengar sang tuli Tak seharusnya ku merasa sepi Menangis tanpa air mata Saat sekitar imaji membelai semesra bayangmu Akbar kata tampa suara melukis tanpa pawar Nan lentera hatiku sampaikan rasaku Yang tak terujud mata dalam nyata